close

MOHON JANGAN MEMBERIKAN KOMENTAR SPAM pada situs ini !!! Belajarlah BERTANGGUNG JAWAB, SERTAKAN LINK ANDA...Jazakallah Khairan.

Jika anda mendengar adzan segeralah lakukan shalat walau bagaimanapun kesibukan anda. Bacalah Al-Qur'an, lakukanlah pengkajian, dengarlah pengajian dan berdzikirlah. Jangan sia-siakan waktu anda untuk persoalan yang tidak berguna. Berusahalah membiasakan berbicara dengan bahasa Arab standard karena bahasa Arab standard merupakan salah satu syi'ar Islam. Jangan memperbanyak perdebatan dalam semua urusan walau bagaimanapun keadaannya, sebab pertengkaran tidak akan mendatangkan perbaikan. Jangan banyak tertawa, karena orang yang selalu berhubungan dengan Allah bersifat tenang dan serius. Jangan banyak bergurau, sebab ummat yang berjihad hanya mengenal keseriusan. Jangan bersuara keras melebihi yang diperlukan pendengar karena hal itu selain menyakitkan juga termasuk perbuatan bodoh. Jangan mengumpat seseorang, jangan merendahkan lembaga-lembaga Islam dan jangan berbicara kecuali dalam kebaikan. Berkenalanlah dengan saudara dan teman-teman yang Anda jumpai meskipun Anda tidak diminta memperkenalkan diri sebab dasar dakwah kita adalah kasih sayang dan persaudaran. Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang Anda miliki, maka bantulah orang lain supaya memanfaatkan waktunya. Kalau Anda berurusan persingkatlah pelaksanaannya.


 

Kehidupan adalah anugerah utama Illahi. Anugerah kehidupan memberi gambaran kebesaran-Nya buat kita manusia, yang wajib kita syukuri dan hargai.

Internet adalah kemudahan buat umat manusia. Justru itu, manfaatkan ia untuk kesejahteraan diri kita dan umat sejagat. Senantiasalah kita teringat, apa yang kita lakukan, akan dipertanggungjawabkan pada kemudian hari.

Gunakan sebaik-baiknya kurnia Allah SWT kepada kita. Halalkan kegunaan akal, hati dan lidah pada perkara yang bakal membawa kecemerlangan diri kita dunia dan akhirat. Kita hidup hanya sekali. Sekali 'pergi' tak kan kembali. Buat baik sebanyak - banyaknya, dan buat jahat JANGAN sekali-kali.

Kewujudan website islam-muda.blogspot.com sebagai wadah untuk meningkatkan nilai diri. Bernuansakan penyatuan ummah dengan ciri-ciri kemurnian budi dan budaya. Walaupun, dunia terus maju dengan teknologi, kita akan terus kekal dengan akhlak dan jati diri insani.

 

Pelajarilah Ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah khasyah, Menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah Tasbih,
mencarinya adalah JIHAD, Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui adalah Shadaqah, menyerahkan kepada ahlinya adalah Taqarrub.
Ilmu adalah teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian.


"Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Dan aku (Rasulullah) adalah sebaik-baik Salaf bagimu."
(H.R. Muslim)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
"Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan amal keburukannya"
(Tazkiyatus An-Nafs, 17)

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:
"Berapa banyak amalan kecil menjadi besar karena
niat, dan berapa banyak pula amalan besar menjadi kecil karena niat"
(Jami' Al-Ulum wa Al-Hikam,12)

Said bin Jubair rahimahullah berkata :
"Celakalah orang yang tidak mengetahui sesuatu lalu ia mengatakan 'saya mengetahuinya' "
(Al-Adab Asy-Syar'iyyah,II/65)

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :
"Kalaulah bukan karena ulama tentulah manusia seperti binatang"
(Minhaju Al Qashidin,12)

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata :
"Tidaklah aku ketahui suatu amalan yang lebih utama daripada menuntut ilmu dan menjaganya bagi siapa yang dikehendaki oleh Allah"
(Syarhus As-Sunnah,I/193)


Ta'aruf

....Carilah Ilmu Bermanfaat untuk Dunia dan Akherat......

Firdaus Bin Abdurrohman | Create Your Badge

Sabtu, 14 Juli 2012

HIKMAH SEBUAH KEKALAHAN


إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ
 “Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan agar Allah memisahkan kaum mukminin (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Dan agar Allah membersihkan kaum mukminin (dari dosa mereka) serta membinasakan orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imran: 140-141)

 Allah telah menetapkan di dunia ini ada sebuah kemenangan dan kekalahan. Demikian pula dalam jihad jama’ah-jama’ah Islam melawan para wali syetan, ada sebuah kekalahan dan kemenangan. Kemenangan karena pertolongan Allah dengan beberapa sebab yang telah dijalaninya. Atau juga kekalahan karena kemaksiatan yang terjadi pada barisan ummat Islam. Semua itu menjadi sunnatullah yang mesti dijalani.

 فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
 “Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat perubahan bagi sunnah (ketentuan) Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.“ (Qs. Fathir : 43)

Jika gerakan-gerakan Islam hari ini sedang kalah dalam konfrontasi dengan para wali syetan, di sana ada sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi sebuah jama’ah dan juga bagi para anggotanya. Kesalahan apakah yang telah dilakukan oleh anggotanya sehingga Allah SWT menimpakan kekalahan ?. Semuanya harus dievaluasi sehingga jama’ah tersebut dikemudian hari kuat dan siap menghadapi konspirasi musuh-musuhnya.

Tafsir Ayat 
Pada ayat di atas Allah SWT menghibur kaum mukminin yang sedang mengalami kekalahan pada Perang Uhud. Yaitu ketika pasukan pemanah melanggar perintah Nabi SAW pada peperangan Uhud dengan meninggalkan posnya di atas gunung, lalu turut berebut rampasan. Pasukan kaum muslimin akhirnya terpukul mundur, dikucar-kacirkan oleh musuh sampai kalah.

Peristiwa ini menjadi satu pelajaran bagi kaum muslimin untuk menyadarkan mereka bahwa orang-orang Islam itu diciptakan bukanlah untuk bermain-main, berfoya-foya, bermalas-malas, menimbun kekayaan, tetapi mereka harus sungguh-sungguh beramal, menaati perintah Nabi SAW dan tidak melanggarnya, apapun resikonya.

Hikmah kekalahan yang dijelaskan dalam ayat di atas banyak sekali, diantaranya;

Pertama: Luka yang diderita oleh kaum muslimin saat kalah, sama dengan lukanya orang kafir saat mereka kalah.
Semua ini sebagai bentuk penyemangat umat Islam, yaitu dengan menyebutkan suatu fakta. Faktanya adalah jika mereka telah mengalami kerugian tertentu dan juga kerusakan demi memperjuangkan kebenaran, serta masa depan yang lebih cemerlang, maka musuh-musuh mereka juga akan mendapati kematian dan luka-luka. Jika mereka tidak memenangkan Pertempuran Uhud pada hari itu, musuh mereka juga telah dikalahkan pada Perang Badar sebelum hari itu. Oleh karenanya, adalah wajib bagi mereka untuk bersabar menghadapi cobaan dari Allah SWT berupa kekalahan.

Imam Abdurrahman As-Sa’di rhm berkata, “Dan diantara hikmah pada ayat ini bahwasanya dunia ini Allah peruntukkan bagi orang-orang mukmin dan kafir, orang yang baik dan orang yang fajir, kemudian Allah pergilirkan hari-hari diantara manusia. Suatu hari diberikan pada satu kelompok, dan hari lain diberikan pada kelompok lain karena memang dunia ini adalah fana. Berbeda dengan akhirat, maka sesungguhnya akhirat hanya diperuntukkan untuk kaum mukminin. [Tafsir taisiri karimir rahman pada ayat tersebut ]

Hikmah kedua adalah:Untuk menyaring shof pasukan Islam.
Peristiwa kekalahan kaum muslimin di peperangan Uhud sesudah mereka menang di dalam Perang Badar sebelumnya, adalah juga dimaksudkan untuk membedakan orang-orang yang benar-benar beriman dari kaum munafik dan untuk membersihkan hati orang-orang mukmin yang masih lemah. Sehingga benar-benar menjadi orang yang ikhlas, bersih dari cacat dosa.

Perbuatan seseorang samar-samar, dan tidak jelas hakikatnya kecuali dengan melalui ujian berat. Kalau lulus ujian itu, jelaslah bahwa dia adalah orang yang bersih dan suci, sebagaimana halnya emas, baru dapat diketahui keasliannya sesudah diasah, dibakar dan diuji dengan air keras. Ibnu Katsir rhm berkata ketika menafsirkan ayat, “Supaya Allah membedakan kaum mukminin”. Hal ini juga termasuk diantara hikmah, yaitu menguji hamba-hamba-Nya dengan kekalahan dan bencana-bencana agar jelas antara orang mukmin dan munafik. Karena jika kemenangan terus ditangan kaum mukminin, maka akan banyak orang munafik pada barisan ummat islam. Dan jika ujian itu muncul, jelaslah orang-orang yang benar-benar cinta terhadap Islam. Mereka tetap komit pada kondisi longgar dan sempit, mudah dan sulit sangat berbeda dengan orang munafiq. [Tafsir al Qur’ani ‘Adhim : I/149].

Hikmah ketiga: Allah SWT hendak mengambil orang-orang pilihan dari para syuhada’.
Para syuhada’ adalah orang-orang pilihan dari para mujahidin. Kematian mereka di medan tempur bukan berarti mereka kalah, tetapi mereka adalah orang yang menang dengan kehidupan yang abadi di akhirat. Sampai-sampai Rasulullah SAW berkenginan menjadi seorang yang syahid sebagaimana dalam hadist ;
 وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّى أُقْتَلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيَى 
“Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya, sungguh aku senang jika aku terbunuh dijalan Allah kemudian dihidupkan lagi.” [ HR. Muslim ]

 Abdurrahman As-Sa’di rhm menjelaskan dalam tafsirnya ketika menafsirkan “ dan mengambil dari kalian para syuhada’” ini juga mengandung ragam hikmah. Karena syahid di sisi Allah SWT adalah kedudukan yang paling tinggi. Dan tidak ada jalan untuk mendapatkannya kecuali dengan sebab-sebabnya. Ini adalah bagian dari rahmat Allah bagi hambaNya yang mukmin. Bahwa syahadah itu diikat oleh hal-hal yang tidak disenangi jiwa. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan apa yang mereka cintai dari kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi yaitu jannah. [ Tafsir as Sa’di pada ayat tersebut ].

Demikianlah kesimpulan pada surat Ali Imran ayat 40, yaitu, jika kaum muslimin menderita luka atau menemui ajalnya pada Perang Uhud, maka orang-orang kafir juga mengalami yang demikian itu pada Perang Badar. Jadi, menang dan kalah dalam peperangan adalah ketentuan yang dipergilirkan oleh Allah diantara manusia, agar mereka mendapat pelajaran, dan supaya Allah membedakan antara kaum mukminin dengan orang-orang kafir, dan juga memberikan kepada kaum muslimin kebahagiaan mati syahid yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah, karena mereka mengorbankan jiwa raganya untuk membela kebenaran, dan Allah tidak menyukai orang-orang berbuat zalim.

Hikmah keempat: Untuk membersihkan jiwa kaum mukminin dan membinasakan orang-orang kafir.
Kata tamhîsh dalam bahasa Arab berarti ‘menyucikan dari segala kekurangan dan kerusakan’, sedangkan kata mahq dalam bahasa Arab berarti ‘mengurangi secara bertahap’. Mungkin, dalam kekalahan Perang Uhud, Allah SWT berkehendak untuk menunjukkan titik lemah umat Islam sehingga mereka akan berpikir untuk meningkatkan diri dan memutuskan untuk memperbaiki kesalahan mereka, agar benar-benar siap untuk melaksanakan tindakan-tindakan berikutnya. Terkadang kekalahan lebih bisa untuk dijadikan pelajaran dari pada kemenangan yang terkadang menyebabkan kecerobohan.

 Syaikh Abdurrahman as Sa’di menjelaskan ayat “Dan agar Allah membersihkan kaum mukminin (dari dosa mereka)” dan ini pula termasuk hikmah bahwa dengan kekalahan tersebut, Allah SWT hendak membersihkan dosa serta aib kaum mukminin. Hal ini menunjukan bahwa syahadah dan berperang di jalan Allah akan membersihkan dosa serta menghilangkan aib-aib. Dan juga Allah berkehendak membersihkan kaum mukminin dari kaum munafik, sehingga benar-benar bersih dari mereka. Antara mukmin dan munafik benar-benar terpisah. Diantara hikmah kekalahan juga untuk mimbinasakan orang-orang kafir, maksudnya : agar kekalahan di pihak umat Islam itu menjadi sebab untuk menghapus dan membinasakan orang-orang kafir sebagai hukuman. Karena mereka itu jika menang akan melampui batas dan bertambah perbuatan mereka itu sehingga Allah akan menyegerakan hukumannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin. 

Demikianlah hikmah kekalahan di Perang Uhud untuk dijadikan pelajaran bagi para Jama’ah-Jama’ah Islam dan anggotanya yang hari ini sedang mengalami kekalahan. Ayat ini menegaskan; kemaksitan menghalangi kemenangan, dan pada kekalahan ada hikmah. Kita harus yakin bahwa kemenangan akan segera datang. Karena fajar akan segera menyingsing setelah gelapnya malam. Karena memang kegelapan akan sirna dengan datangnya cahaya. 

Sumber: http://annajahsolo.wordpress.com/2012/02/24/hikmah-sebuah-kekalahan/

BACA SELANJUTNYA.... »»

Selasa, 10 Juli 2012

Muhammad bin Wasi’ : Panutan Dalam Pelajaran Ikhlas

Melihat ke belakang, menoleh sejarah. Ada kisah-kisah menakjubkan yang telah tertoreh. Manusia-manusia pilihan, tokoh besar sepanjang masa. Membaca dan mempelajari tentang kehidupan mereka seakan membaca dan mempelajari sebuah keajaiban. Kadang muncul takjub, bahagia, heran, dan bertanya,”Mampukah kita seperti mereka?”. Namun, tetap saja kita diperintahkan untuk mencontoh mereka. Meniru orang mulia agar menjadi mulia.

Dari kalangan tabi’in murid-murid sahabat Nabi, ada sebuah nama yang sangat dikenal dengan ketekunan dalam beribadah. Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin Wasi’ bin Jabir Al Akhnas.Al Imam Rabbani Al Qudwah. Ada yang mengatakan ; Abu Abdillah Al Azdi Al Bashri. Salah seorang tokoh besar di masanya. Haditsnya diriwayatkan oleh Muslim,Abu Dawud,Tirmidzi dan An Nasa’i.

Beliau berguru ilmu hadits kepada Anas bin Malik, Ubaid bin Umair, Mutharrif bin As Syikhir, Abdullah bin As Shamit, Abu Shalih As Samman, Muhammad bin Sirin dan lainnya. Beliau sedikit meriwayatkan hadits.


Dengan kedudukan beliau, banyak ulama’ yang berguru dan mengambil ilmu dari beliau. Diantara murid-murid beliau ; Hisyam bin Hassan, Azhar bin Sinan, Ismail bin Muslim Al Abdi, Sufyan At Tsauru, Ma’mar, Hammad bin Salamah, Sallam bin Abi Muthi’, Shalih Al Murri, Hammad bin Zaid, Ja’far bin Sulaiman Ad Dhuba’i, Nuh bin Qais, Sallam Al Qari, Muhammad bin Al Fadhl bin Athiyyah.

Ali Al Madini berkata : “Muhammad bin Wasi’ memiliki lima belas riwayat hadits”

Pujian Ulama’
Seorang hamba yang beriman dan senang beribadah,disegerakan pahalanya dengan adanya pujian dan sanjungan dari orang-orang yang baik. Begitupula Muhammad bin Wasi, dengan kemuliaan dan kehormatan yang beliau miliki, mengalirlah pujian dari para ulama’ kepada beliau.

Ibnu Syaudzab berkata,”Muhammad bin Wasi’ tidak memiliki ibadah yang menonjol bila dibandingkan dengan yang lain. Namun jika ditanyakan,”Siapakah penduduk Basrah yang paling mulia?” Jawabannya pasti : ”Muhammad bin Wasi’”.

Musa bin Harun menjelaskan,”Muhammad bin Wasi’ adalah seorang ahli ibadah, senang beramal, wara’, memiliki kedudukan tinggi, mulia, tsiqah, berilmu dan semua kebaikan ia kumpulkan”.

Ibnu Hibban bercerita,”Beliau termasuk ahli ibadah yang teliti, ahli zuhud yang senang beramal. Beliau pernah berangkat berjihad di Khurasan. Keutamaan dan kelebihan yang beliau miliki sangat banyak”.

Malik bin Dinar mengatakan,”Muhammad bin Wasi’ termasuk ahli membaca Al Qur’an Ar Rahman.Keutamaannya sangat banyak”.

Pandangan Terhadap Dunia 

Kaum alim ulama’ memiliki pandangan yang berbeda dengan keumuman manusia dalam menilai dunia. Dunia bukanlah tujuan sesungguhnya. Namun, dunia hanya tempat mempersiapkan bekal untk menggapai kehidupan di kampung abadi nanti dan dunia adalah tempat persinggahan.

Hammad bin Zaid berkata,”Ada orang berkata kepada Muhammad bin Wasi’,”Berikanlah wasiat untukku!”. Beliau menjawab ; ”Aku wasiatkan kepadamu agar engkau menjadi raja di dunia dan akhirat”. Orang itu bertanya,”Bagaimanakah caranya?”.Muhammad bin Wasi’ menjelaskan,”Bersikaplah zuhud terhadap dunia”. Muhammad bin Wasi’ berkata ; ”Sungguh, aku iri kepada orang yang kuat beragama sementara ia tetap ridha dengan dunia yang sedikit padanya”.

Dalam pertempuran Jurjan,Yazid bin Al Muhallab memperoleh rampasan perang dalam bentuk mahkota yang dihiasi permata.Yazid bertanya kepada pasukannya,”Apakah kalian percaya, masih ada orang yang tidak menginginkan benda ini?”. Mereka menjawab,”Tidak!”. Yazid lalu memanggil Muhammad bin Wasi’ Al Azdi dan berkata,”Terimalah mahkota ini!”. Muhammad bin Wasi’ berkata,”Aku tidak memerlukannya”.Yazid memaksa,”Aku mengharuskan kamu untuk mau menerimanya!”.

Mahkota itu lalu diterima oleh Muhammad bin Wasi’. Yazid lalu memerintahkan satu orang untuk menguntitnya,apa yang akan diperbuat oleh Muhammad bin Wasi’. Ternyata,di tengah jalan Muhammad bin Wasi’ bertemu dengan seorang pengemis, kemudian Muhammad bin Wasi’ menyerahkan mahkota tersebut kepada si pengemis. Utusan dari Yazid tadi segera membawa si pengemis untuk menghadap kepada Yazid sehingga dapat menceritakan peristiwa itu.Yazid kemudian mengambil kembali mahkota itu dan memberi ganti kepada si pengemis uang dalam jumlah yang banyak.

Subhanallah! Masih adakah manusia semacam beliau? Yang tidak lagi memerlukan bertumpuknya harta dan berlebihnya materi? Manusia-manusia pilihan yang mengambil bagian dari dunia secukupnya saja.Semoga Allah merahmati Anda,wahai Muhammad bin Wasi’. Anda telah mewariskan sesuatu yang sulit bagi kami.

Pandangan Terhadap Akhirat 

Hazm Al Qath’i berkata,”Muhammad bin Wasi’ berkata menjelang wafatnya,”Wahai saudara-saudara,tahukah kalian kemana aku akan dibawa pergi? Demi Allah, ke neraka kecuali Allah memberikan ampunan untukku”

Sulaiman At Taimi berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang khusyu’nya melebihi Muhammad bin Wasi’”

Kedudukan Beliau Dalam Doa 

Dalam berperang, kaum muslimin membutuhkan orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala. Dengan sebab keberadaan dan keikutsertaan mereka di tengah pasukan, pertolangan Allah menjadi sangat dekat. Keimanan dan doa-doa mereka sangat dibutuhkan. Demikian juga Muhammad bin Wasi’.

Al Ashma’i berkata,”Pada saat Qutaibah bin Muslim menghadapi pasukan Turki dan merasa kewalahan, beliau menanyakan tentang Muhammad binWasi’. Ada yang menjawab,”Dia ada di sayap kanan sedang meletakkan busur dan mengibaskan jari-jarinya ke arah langit (berdoa) ”.Qutaibah mengatakan,”Jar-jari itu lebih aku suka daripada seratus ribu bilah pedang tajam yang dipegang oleh anak-anak muda”

Nasehat-nasehat Beliau 

Berikut ini beberapa nasehat dari Muhammad bin Wasi’ untuk kita.Nasehat yang sangat berharga.

Muhammad bin Wasi’ berkata,”Apabila seorang hamba menghadapkan sepenuh hatinya kepada Allah, pasti Allah akan menghadapkan hati hamba-hamba kepada orang tersebut”

Muhammad bin Wasi’ jika ditanya,”Apa kabar anda pagi ini?”. Beliau menjawab,”Ajalku dekat, angan-anganku masih panjang sementara amalanku buruk”

Seorang pemberi nasehat mendekati Muhammad binWasi’ dan bertanya,”Mengapa aku temukan kenyataan hati yang tidak khusyu’, mata yang tidak menangis, kulit yang tidak bergetar?”. Muhammad menjawab,”Wahai fulan,aku tidak melihat kesalahan ini dari mereka, Tapi dari dirimu. Jika nasehat disampaikan dari hati tentu akan mengena di hati”.

Ada orang memperhatikan luka di tangan Muhammad bin Wasi’ dan ia merasa kasihan. Muhammad bin Wasi’ berkata,”Tahukah engkau, kenikmatan apa yang aku rasakan dari luka di tanganku ini? Karena,luka ini tidak diletakkan di biji mataku,atau di ujung lidahku atau di ujung kemaluanku”.

Ibnu Uyainah berkata , Muhammad bin Wasi’ pernah mengatakan,”Seandainya dosa-dosa yang diperbuat mempunyai bau tersendiri, tidak akan satu orang pun yang mau duduk bersamaku”

Ibadah dan Ajaran Keikhlasan 

Musa bin Yasar berkata,”Aku pernah menemani Muhammad bin Wasi’ dalam perjalanan ke Makah. Sepanjang malam ia sholat di atas kendaraan,dalam keadaan duduk sambil berisyarat”

 Muhammad bin Wasi’ berkata ,”Sungguh, ada seseorang sering menangis selama duapuluh tahun dan istrinya yang selalu didekatnya tidak pernah tahu”.

Muhammad bin Wasi’ berkata,”Sungguh,aku telah menemui beberapa orang, diantara mereka ada yang kepalanya berdampingan dengan kepala istrinya,diatas satu bantal. Air matanya membasahi bantal dibawah pipinya, namun istrinya tidak pernah mengetahui. Aku juga menemui beberapa orang,diantara mereka ada yang berdiri dalam shof shalat, air matanya mengalir di pipi dan tidak ada seorang pun disampingnya yang mengetahui”.

Muhammad bin Wasi’ selalu berpuasa namun tidak pernah menampakkannya.

Tidak Berambisi Terhadap Kedudukan 

Seorang pembesar bernama Malik bin Al Mundzir pernah mengundangnya.”Terimalah jabatan sebagai Qadhi!”. Tetapi Muhammad bin Wasi’ menolak, tapi Malik tetap membujuknya dan berkata,”Kamu harus mau menjabat sebagai Qadhi, jika tidak aku akan mencambukmu sebanyak tigaratus kali!”. Muhammad bin Wasi’ mengatakan,”Jika engkau lakukan, engkau orang yang semena-mena. Sungguh,hina di dunia lebih baik daripada hina di akhirat”

Muhammad bin Wasi’ meninggal pada tahun 123 H .Rahimahullah

Ditulis Oleh Ustadz Mukhtar Rifa’i.
sumber: http://www.salafy.or.id/2012/05/03/muhammad-bin-wasi-panutan-dalam-pelajaran-ikhlas/.
Bacaan : Thabaqat Hanabilah 215,Tarikh Bukhari 1/255,Hilyatul Auliya 2/345-357 Tarikh Thabari 4/53 Siyar A’lam Nubala’ 6/119,Tahdzib Tahhdzib 9/499-500

BACA SELANJUTNYA.... »»

Selasa, 22 Juni 2010

PBC - ( Pelatihan Bisnis Cemerlang ) Bersama Leader - Leader Farmasi Islam

Anda ingin hidup sehat alamiah ilmiah Ilahiah??
Atau Anda ingin menjadi ahli kesehatan untuk keluarga dan lingkungan anda??


PBC adalah paket Training dahsyat yang digelar Sabtu pagi sampai Ahad sore ( 2 hari 1 malam ) di hotel berbintang di kota dimana jaringan Herba Penawar Al- Wahida berkembang di seluruh dunia.

Pelatihan ini terbuka bagi semua kalangan muslim yang ingin mendapatkan informasi dan pelatihan mengenai berbagai pengobatan secara islami. Bagi para dokter, bidan, perawat dan para medis yang lain akan mendapatkan wawasan baru mengenai dunia kedokteran timur yang berbeda dari dunia yang mereka geluti selama ini.

Disamping konsep diagnosis dan terapi herbal, peserta juga dibekali materi entrepreneurship, leadership, dan motivasi. Bersama Trainer handal, anda akan dibimbing untuk dilatih dan disupport menjadi usahawan dan herbalis muslim.



Fasilitas:
1. Sertifikat nasional
2. Hand Diagnosis Skill
3. Terapi Herbal Skill
4. Pembetulan Tulang belakang Skill
5. Leadership dan Enterpreneurship
6. Seminar Kit. Hotel dan Akomodasi (makan 4 kali dan 2 snack)
7. Special Radix Gift
8. Minyak But-but Gold
9. Pelatihan lanjutan sampai mahir

Anda berhak mendapatkan pelatihan lanjutan sampai mahir tanpa biaya lagi, yang meliputi:
1. Perobatan jawi
2. Ear candle terapi
3. Eye Terapi
4. Accupressure
5. Al Hijamah / bekam


Waktu dan Tempat:
26 - 27 Juni 2010 di PSBB MAN 3 Jl. Bogor No. 22 Malang

Dan sambil anda penasaran tentang Pelatihan Intensive ini, mungkin anda menebak-nebak, berapa harga yang pantas untuk pelatihan 2 hari ini.....
Apakah Rp.2.000.000,- ????
Apakah Rp.1.500.000,- ????
Apakah Rp.1.000.000,- ????

Ternyata investasi untuk 2 hari pelatihan yang berHARGA ini HANYA Rp. 425.000,- (DP 200rb) . Untuk pendaftaran sebelum tgl 15 Juni 2010 mendapatkan Jaket Eklusif Gratis.

Trining difasilitasi oleh para Trainer Farmasi Islam:

Wisnu Wijaya AP, ST ( Ketua HPA Zona Jatim-Bali-Nusa Tenggara )
Joko Wahyudi, SE ( Top Herbalis Jatim )
Sholeh Effendi, SH ( Top Leader HPA Jatim )

Cara Mendaftar:
Pendaftaran dapat ditransfer melalui rekening bank BCA No. 4401 200 112 a.n: Sase Dyah Sriandayani
Anda boleh sekaligus registrasi dan konfirmasikan pembayaran Anda SEKARANG ke: Telp/SMS: 0341-7630600 / 081 333 748 417 / 085 796 023 411. Informasikan juga Nama dan Tanggal Bayar serta training yang diikuti. Contoh: Ahmad, 8 juni, PBC.

Kami sungguh berbahagia dan sangat senag, membaca nama indah Anda tercantum dalam daftar orang-orang yang memutuskan bagi kecermelangan hidupnya. Apalagi saat diskusi kita penuh ramah dan santun di ruang yang kita nantikan bersama.

BACA SELANJUTNYA.... »»

Sabtu, 12 September 2009

Belajar Mengucapkan “Saya Tidak Tahu”

Disamping golongan pengingkar sunnah yang menolak hadits-hadits shahih dengan akal dan hawa nafsunya, adapula golongan yang "sok tahu". Mereka berbicara tanpa ilmu. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Dajjal akan keluar dari segitiga bermuda, Dajjal adalah Amerika karena memandang dengan sebelah mata, Ya’juj dan Ma’juj adalah pasukan mongol, dan lain-lain.

Maka pada edisi kali ini akan kami bawakan dalil dan ucapan para shahabat dan ulama’ yang membimbing kta untuk belajar mengatakan "tidak tahu" terhadap hal-hal yang memang tidak diketahui, apalagi pada perkara-perkara yang ghaib yang tidak ada perincian dan penjelasannya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah berfirman (yang artinya), "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung-jawabannya" (Al-Isra:36)



Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu Wata’ala mengajarkan pada kita agar tidak berbicara tentang sesuatu kecuali dengan ilmu. Apalagi jika masalah itu berkaitan dengan Dzat Allah, perbuatan Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, ataupun perkara-perkara yang belum terjadi dan yang akan datang seperti tanda-tanda hari kiamat, hari kebangkitan, hisab, surga dan neraka, ataupun yang selainnya.

Dalam masalah-masalah tersebut, kita tidak mungkin bisa mengetahuinya dengan panca indera atau akal kita. Kita hanya mengetahui sebatas apa yang diberitakan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih sesuai dengan apa yang dipahami oleh para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum.

Muadz Bin Jabbal Radhiyallahu ‘Anhu ketika ditanya oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alahi Wasallam tentang sesuatu yang tidak diketahui, maka beliau menjawab Allahu wa Rasuluhu a’lam. Disebutkan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adz Bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berkata pada Muadz: "Ya Muadz tahukan engkau apa hak Allah di atas hambaNya? Muadz menjawab: Allah dan RasulNya lebih tahu". Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), "Hak Allah di atas hambaNya adalah agar mereka beribadah kepadaNya dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun". Kemudian Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berkata lagi, "Tahukah engkau apa hak mereka jika telah menunaikannya? Muadz menjawab: Allah dan RasulNya lebih tahu"(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Ini menunjukkan adab seorang shahabat ketika ditanya dengan sesuatu yang tidak dia ketahui, mereka mengatakan "Allah dan RasulNya lebih tahu" *.

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri pun diajarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk menjawab "Allahu a’lam" ketika ditanya tentang ruh, karena itu urusan Allah. Allah berfirman (yang artinya), "Dan mereka bertanya kepadamu tentang urusan ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit." (Al-Isra:85).

Maka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidak malu untuk mengatakan "tidak tahu" pada perkara-perkara yang memang Allah tidak turunkan ilmu kepadanya. Atau beliau menunda jawabannya hingga turun jawaban dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Hikmah dari jawaban-jawaban beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam ini adalah: kaum Yahudi dan Musyrikin mengetahui betul bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mengucapkan dari hawa nafsunya, melainkan dari wahyu Allah yang diturunkan kepadanya. Jika ada keterangan wahyu dari Allah beliau jawab, dan jika tidak maka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menundanya.

Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah pernah ditanya dalam suatu masalah. Beliau menjawab, "Saya tidak tahu". Maka si penanya heran dan berkata, "Apakah kamu tidak malu mengatakan "tidak tahu", padahal engkau adalah ahlul fiqh negeri Iraq?" Beliau menjawab, "Tidak, karena para malaikat sekalipun tidak malu mengatakan tidak tahu, ketika Allah tanya: "Sebutkan kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang benar!"(Al-Baqoroh:31). Maka para malaikat menjawab: "Mereka menjawab: Mahasuci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (Al-Baqoroh:32) (Lihat ucapan Imam Asy-Sya’bi dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhili (2/51) melalui Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim karya Salim bin Ied Al-Hilali).

Dakwah ini adalah menyampaikan apa yang Allah turunkan dan apa yang Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam jelaskan. Bukan buatan sendiri, berpikir sendiri, atau memberat-beratkan diri dengan sesuatu yang tidak ada ilmu padanya. Allah berfirman (yang artinya),"Katakanlah (hai Muhammad): Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kalian atas dakwahku, dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan (memaksakan diri). Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kalian akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Qur’an setelah beberapa waktu lagi." (Shaad:86-88)

Karena ayat inilah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu marah ketika ada seseorang yang berbicara tanda-tanda hari kiamat dengan tanpa ilmu. Beliau Radhiyallahu ‘Anhu berkata, "Barangsiapa yang memiliki ilmu maka katakanlah! Dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu maka katakanlah "Allahul A’lam!" Karena sesungguhnya Allah telah mengatakan pada nabiNya: Katakanlah (hai Muhammad): Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kalian atas dakwahku, dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan (memaksakan diri)." (Atsar riwayat Ad-Darimi juz 1/62; Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayaanil Ilmi juz 2/51; Baihaqi dalam Al-Madkhal no 797; Al Khatib Al Baghdadi dalam Al Faqiih wal Mutafaqih; melalui nukilan Hilyatul Alimi Al-Mu’allim, hal 59)

Demikian pula Abu Bakar Shidiq Radhiyallahu ‘Anhu ketika ditanya tentang tafsir suatu ayat yang tidak beliau ketahui, beliau menjawab, " Bumi mana yang akan aku pijak, langit mana yang akan menaungiku, mau lari kemana aku atau apa yang akan aku perbuat kalau aku mengatakan tentang ayat Allah tidak sesuai dengan apa yang Allah kehendaki" (Atsar riwayat Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi, juz 2/52; Baihaqi dalam Al-Madkhal no 792; lihat Hilyatul ‘Alimi Al-Mu’allim, hal 60).

Diriwayatkan ucapan yang semakna dari Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, dan juga dinukilkan dari para shahabat oleh para ulama setelahnya seperti Maimun Bin Mihran, Amir Asy-Sya’bi, Ibnu Abi Malikah, dan lain-lain. (lihat sumber yang sama halaman 60).

Pernah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang satu masalah, kemudian beliau menjawab, "Aku tidak mempunyai ilmu tentangnya" (padahal saat itu beliau sebagai khalifah -red). Beliau berkata setelah itu, "Duhai dinginnya hatiku" (3X). Maka para penanya berkata kepadanya, "Wahai Amirul Mukminin apa maksudmu?". Ali Bin Abi Thalib menjawab, "Yakni dinginnya hati seseorang ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui". Kemudian ia menjawab, "Wallahu A’lam".(Riwayat Ad-Darimi 1/62-63; Al Khatib dalam Al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2 hal 71; Baihaqi dalam Al-Madkhal no 794 dari jalan yang banyak. Lihat Hilyatul ‘Alimi Al-Mu’alim hal 60).

Kejadian yang sama juga terjadi pada Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu ketika beliau ditanya, "Apakah bibi mendapat warisan?". Beliau menjawab saya tidak tahu. Kemudian si penanya berkata, "Engkau tidak tahu dan kamipun tidak tahu, lantas…?". Maka Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata, "Pergilah kepada para Ulama di Madinah, dan tanyalah kepada mereka". Maka ketika dia (si penanya -red) berpaling, dia berkata, "Sungguh mengagumkan Abu Abdirrahman (Yakni Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu) ditanya sesuatu yang beliau tidak tahu, beliau katakan: Saya tidak tahu". (Riwayat Ad-Darimi 1/63; Ibnu Abdi Abdi Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi; Al-Khatib dalam Al-Faqih wal Mutafaqih juz 2 hal 171-172; Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal, 769. Lihat Hilyatul ‘Alimi Al-Mu’allim ha 61).

Datang seseorang kepada Imam Malik Bin Anas Rahimahullah, bertanya tentang satu masalah hingga beberapa hari beliau belum menjawab dan selalu mengatakan "saya tidak tahu". Sampai kemudian orang itu datang dan berkata, "Wahai Abu ‘Abdillah, aku akan keluar kota dan aku sudah sering pulang pergi ke tempatmu (yakni meminta jawaban)". Maka Imam Malik menundukkan kepalanya beberapa saat, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, "Masya Allah Hadza, aku berbicara adalah untuk mengharapkan pahala. Namun, aku betul-betul tidak mengetahui apa yang kamu tanyakan." (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilya, 6/323; Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi 2/53; Baihaqi dalam Al-Madkhal no 816; Al-Khatib dalam Al-Faqih wal Mutafaqih 2/174; lihat Hilyatul ‘Alimi al Mu’allim, ha 63).

Dari beberapa ucapan di atas, kita diperintahkan untuk menyampaikan apa yang kita ketahui dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan dilarang untuk berbicara pada sesuatu yang tidak kita ketahui. Sebagai penutup kita dengarkan nasehat seorang Ulama’ sebagai berikut:

"Belajarlah engkau untuk mengucapkan ‘Saya tidak tahu’. Dan janganlah belajar mengatakan ’saya tahu’ (pada apa yang kamu tidak tahu -red), karena sesungguhnya jika engkau mengucapkan ’saya tidak tahu’ mereka akan mengajarimu sampai engkau tahu". Tetapi jika engkau mengatakan ‘tahu’, mereka akan menghujanimu dengan pertanyaan hingga kamu tidak tahu".(Jami’ Bayanil ‘Ilmi 2/55 melalui nukilan Hilyatul ‘Alim Al-Mu’allim, Salim Bin Ied Al-Hilaly, hal 66)

Perhatikan pula ucapan Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah, "Kalimat ’saya tidak tahu’ adalah setengah ilmu". (Riwayat Ad-Darimi 1/63; Al-Khatib dalam Al-Faqih Wal Mutafaqih juz 2/173; Baihaqi dalam Al-Madkhal no 810. Lihat Hilyatul ‘Ilmi Al-Mu’allim ham 65)

Maka kalau seseorang ’sok tahu’ tentang sesuatu yang tidak ada ilmu padanya, berarti bodoh di atas kebodohan. Yakni bodoh tentang ilmunya dan bodoh tentang dirinya. Wallahu a’lam.

*)Jawaban di atas di ucapkan jika pertanyaanya berkaitan dengan masalah syari’at. Namun jika masalahnya berkaitan dengan masalah taqdir dan sejenisnya, jawabanny cukup dengan "Wallahul A’lam". Karena Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sendiripun tidak mengetahuinya. (Demikianlah yang kami dapatkan dari Syaikh Utsaimin dari majelisnya)

BACA SELANJUTNYA.... »»

Allah di Atas Arsy

A

lquran, hadits shohih dan naluri serta cara berpikir yang sehat akan mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas Arsy.

Allah berfirman (yang artinya), "Allah yang maha pengasih itu ‘istiwa’ di atas Arsy" (Taha:4). Sebagaimana diterangkan dalam hadits Bukhary, para tabiin menafsirkan istiwa dengan naik dan meninggi.

Allah berfirman (yang artinya), "Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di Langit? Dia akan menjugkir-balikkan bumi bersama kamu" (Al Mulk:16). Menurut Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang dimaksud dengan ‘Yang di langit’ adalah Allah seperti yang dituturkan dalam kitab tafsir Ibnul Jauzy.

Firman Allah (yang artinya), "Orang-orang takut kepada Tuhannya yang di atas mereka" (An Nahl:150).

Firman Allah tentang Nabi ‘Isa Alaihis Salam (yang artinya),"Tetapi Allah mengangkatnya kepada-Nya"(Annisa 150). Maksudnya Allah menaikkan nabi ‘Isa Alaihis Salam ke langit.


Allah berfirman (yang artinya), "Ialah Allah yang ada di langit-langit" (Al An’am:3). Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut, "mufassirin sependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan bahwa kita tidak akan berkata seperti perkataan Jahmiyah (golongan sesat) yang mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat. Mahasuci Allah dari ucapan mereka."

Adapun firman Allah (yang artinya), "Dan Allah selalu bersamamu dimana kamu berada" (Al-Hadid:4). Yang dimaksud adalah Allah itu selalu bersama kita (pengawasan-Nya) dimana Allah mendengar dan melihat kita, seperti keterangan dalam tafsir Ibnu Katsir dan kitab Jalalain.

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam mi’raj ke langit ke tujuh dan berdialog dengan Allah serta diwajibkan untuk melakukan sholat 5 waktu (riwayat Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), "Kenapa kamu tidak mempercayaiku? Padahal aku ini dipercaya oleh Allah yang berada di atas langit" (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), "Sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka yang di langit(Allah) akan menyayangimu" (Riwayat Tirmidzi).

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menanyai seorang budak wanita, "dimanakah Allah?".Jawabnya,"Di langit !". Rasulullah bertanya," Siapa saya?". Dijawab lagi, "Kamu Rasulullah". Lalu Rasulullah bersabda, "merdekakanlah ia, karena dia seorang mukminah".

Sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya), "Arsy berada di atas, dan Allah berada di atas arsy. Allah mengetahui keadaan kamu."

Abu Bakar As Shidiq Radhiyallahu ‘Anhu berkata (yang artinya), "Barang siapa menyembah Allah maka Allah berada di langit,ia hidup dan tidak mati" (riwayat Imam Ad Darimy dalam Al Radd Alal Jahmiyah).

Abdullah bin Mubarak pernah ditanya (yang artinya), "Bagaimanakah kita mengetahui Tuhan kita?". Maka Beliau Menjawab,"Tuhan kita di atas langit, di atas Arsy, berbeda dengan makhluk-Nya". Maksudnya Dzat Allah berada di atas arsy, berbeda dan berpisah dengan makhluk-Nya, dan keadaannya di atas arsy tersebut tidak sama dengan makhluk.

Iman Abu Hanifah menulis kitab kecil berjudul "Sesungguhnya Allah itu di atas Arsy". Beliau Rahimahullah menerangkan hal itu dalam kitabnya Al Ilm wal Muta’allim.

Orang yang sedang sholat selalu mengucapkan, "subhana Robbiyal ‘Ala…". (maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Ketika berdoa ia juga mengangkat tagannya dan menengadahkan ke langit.

Anak kecil ketika ditanya dimana Allah, mereka akan segera menjawab berdasarkan naluri mereka bahwa Allah berada di langit.

Otak yang sehat juga mendukung kenyataan bahwa Allah berada di langit. Seandainya Allah berada di semua tempat (dimana-mana), niscaya Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para sahabatnya. Kalau Allah berada di SEGALA TEMPAT, berarti Allah juga berada di tempat-tampat yang najis dan kotor. Maha suci Allah dari semua anggapan itu.

dinukil dari buku "Rasailut Taujihat Al Islamiyah"
Edisi Indonesia "Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat"
Penerbit Darul Khair, Jeddah

BACA SELANJUTNYA.... »»

Sabtu, 18 Juli 2009

Makanan Yang Sebaiknya Di Jauhi Oleh Istri

Pengantin putri dilarang memakan cuka dan qasbur selama tujuh hari, maka peliharalah keterangan saya ini.
Susu, apel, dan buah-buahan yang rasanya asam itu semua di khawatirkan bisa menghambat kehamilan, wahai kawan."
Syekh penazham menjelaskan, bahwa pengantin putri selama tujuh hari dilarang memakan makanan yang termasuk dalam nazham tersebut dan semisalnya yang dapat menimbulkan hawa panas. Begitu juga makanan yang pahit-pahit, seperti turmus, zaitun, dan kacang-kacangan, karena itu semua dapat mematikan syahwat dan menyebabkan orang tidak bisa hamil. Sedangkan tujuan utama pernikahan adalah melahirkan keturunan.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Nikahlah dan berketurunanlah, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian dihadapan umat terdahulu."
Dan hadist-hadits lain yang telah disebutkan pada bab terdahulu
Sedangkan makanan yang dianjurkan untuk dimakan pengantin wanita adalah, daging ayam, jambu, apel yang sudah manis,dan buah-buahan lainnya.


Dianjurkan
Wanita yang sudah hamil sebaiknya memperbanyak mengunyah menyan Arab dan menyan Luban, karena ada hadist yang menerangkan,
Rasulullah Saw. bersabda:
"Wahai kaum wanita yang sedang hamil, berilah makan anak yang dikandungan kalian dengan menyan Luban, karena menyan luban itu bisa menambah akal, menghilangkan riya', memudahkan untuk menghafal, dan bisa menghilangkan sifat pelupa pada diri anak."
Sedangkan anjuran untuk makan jambu berasal dari keterangan yang diriwayatkan oleh Imam Yahya bin Yahya, dari Khalid bin Ma'dan:
"Makanlah oleh kalian (wanita-wanita yang sedang hamil) jambu safarjal dapat mempercantik anak."
Adapula riwayat yang menyatakan, bahwa suatu kaum melapor kepada Nabi Saw. tentang kejelekan anak-anaknya. Maka Allah Swt. memberi wahyu kepada Nabi-Nya:
"Perintahkanlah mereka agar memberi malam buah jambu safarjal kepada wanita-wanita yang hamil pada bulan ketiga dan keempat kehamilannya."
Disamping itu hendaknya wanita yang sedang hamil selalu menjauhi makanan yang jelek dan banyak campurannya.


Qurratul Uyun,
Syarah Nazham Ibnu Yamun

BACA SELANJUTNYA.... »»

Macam-macam Mandi Yang Diwajibkan

Beberapa perkara yang mewajibkan mandi
Perkara yang me-wajibkan mandi itu ada 6(enam):
1. Orang yang bersenggama walaupun tidak keluar mani.
2. Orang yang keluar mani walaupun ia tidak melakukan senggama.
3. Orang yang mengeluarkan darah haid.
4. Orang yang mengeluarkan darah Nifas
5. Orang yang melahirkan anak.
6. Orang yang mati, tetapi yang berkewajiban adalah orang yang masih hidup.

Faidah
Apabila ada seseorang yang lagi tidur kemudian didalam tidurnya dia bermimpi keluar mani tetapi pada kenyataannya dia tidak keluar mani, maka tidak diwajibkan baginya untuk mandi. Dan sebaliknya jika didalam tidurnya dia tidak bermimpi keluar mani tapi tiba-tiba saat dia terbangun ada mani pada qubul atau disebelah kanan-kiri qubulnya atau pada pakaiannya, maka hukumnya itu mani muhtamil maninya sendiri yang keluar saat dia tertidur, Maka wajib untuk mandi.


Beberapa fardhu-nya mandi
Fardhu-nya mandi itu ada 2 (dua).
1. Niat
2. Meratakan air pada bagian luar badan, rambut, kuku, sampai pada lipatan-lipatan badan, pusar, vagina seorang wanita yang kelihatan saat ia buang air besar. Dan apabila memakai anting atau cincin maka harus digerak-gerakkan agar bisa terkena air mandi tadi. Apabila cincin atau anting tidak dapat digerakkan, maka harus dilepas. Dan rambut yang dikepang atau disanggul jika bagian dalamnya tidak bisa terkena air maka harus lepas. Kotoran-kotoran yang ada dibawah kuku harus dihilangkan agar bisa terkena air mandi. Sedangkan yang ada dibagian dalam mata itu tidak diwajibkan untuk membasuh sama ketika sedang wudhu, makanya dihukumi batin (bagian dalam).

Niat Mandi Hadas Gede (Jinabat)
Nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbari lillaahi ta'alaa
artinya: saya niat mandi karena menghilangkan hadats gede karena Allaah Ta'alaa.

Niat mandi haid
Nawaitul ghusla liraf'il hadatsil haidhi lillaahi ta'alaa
artinya: saya niat mandi karena menghilangkan hadas haid karena Allaah Ta'alaa.

Niat mandi nifas
Nawaitul ghusla liraf'il hadatsin nifaasi lillaahi ta'alaa
artinya: saya niat mandi karena menghilangkan hadats nifas karena Allaah Ta'alaa.

Niat mandi wiladah (melahirkan)
Nawaitul ghusla liraf'il hadatsil wilaadati lillaahi ta'alaa
artinya: saya niat mandi karena menghilangkan hadats anak, karena Allaah Ta'alaa.

Niat memandikan mayit
Nawaitul ghusla adaa-an 'an hadzal mayyiti lillaahi ta'alaa
artinya: saya niat memandikan karena menjalankan kewajiban dari ini mayit karena Allaah Ta'alaa.
Perlu diingat
Seandainya ada seorang perempuan yang melahirkan, sebelum dia mandi wiladah, tiba-tiba dia mengeluarkan darah nifas, maka sesudah nifas berhenti cukup hanya mandi sekali dengan niat mandi nifas atau niat mandi wiladah
Dan apabila sebelum mandi hadas gede (jinabat) tiba-tiba datang haid atau nifas, maka cukup mandi hanya sekali dengan niat mandi haid atau niat mandi nifas.

BACA SELANJUTNYA.... »»

Posisi Ketika Bersenggama

Syekh penazham Menuturkan dalam nazhamnya:
"Setiap keadaan, selain keadaan yang telah disebutkan,
diperbolehkan dalam bersenggama dengan istri, maka coba lakukan.
Tetapi yang telah kusebutkan, wahai kawan, lebih utama.
Pendapat lain mengatakan, bahkan dari arah belakang istri pun diperbolehkan.
Yakni pada suatu tempat dimana istri berlutut diatas tikar, jangan kamu tinggal cara tersebut."


Yang dimaksud Syekh penazham, bahwa senggama dapat dilakukan pada setiap keadaan dan dengan cara yang mungkin dapat dilakukan, selain cara yang diungkapkan oleh Syekh penazham berikut ini:
"Jauhilah bersenggama sambil berdiri."
Hal itu berdasarkan firman Allah Swt.:

"Maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." (Qs. Al-Baqarah: 223)


Shahabat Ali karamallahu wajhah berkata: "Wanita laksana kendaraan bagi pria (suami), maka dia boleh mengendarainya kapan saja dibutuhkan."

Akan tetapi, cara yang disunahkan adalah cara-cara yang telah diterangkan. Syekh penazham juga menazhamkan:
"Kemudian suami naik keatas tubuh istri secara perlahan-lahan." dan ada juga cara lain, sebagaimana dikatakan, "pendapat lain mengatakan, bahwa dari arah belakang juga diperbolehkan."

Rasulullah Saw. bersabda:
"Tidak apa-apa melakukan senggama dari arah belakang istri, apabila senggama itu tertuju hanya pada satu lubang."
Adapun yang dimaksud satu lubang adalah vagina (farji).

Selanjutnya Syekh penazham menerangkan posisi bersenggama yang sebaiknya dihindari, yang diungkapkan dalam bait-bait berikut"
"Jauhilah bersenggama dengan cara berdiri,
cara duduk, ambillah keterangan saya yang berurutan ini.
Kemudian dengan posisi miring, jauhilah,
karena bisa menyebabkan pantat sakit. Ambillah kenyataan ini.
Cara istri diatas anda, jauhilah, wahai kawan,
karena bisa menyebabkan sakit pada saluran kencing, dan dengarkanlah."

Syekh penazham menjelaskan tentang cara-cara bersenggama yang sebaiknya dijauhi, antara lain:
1. Bersenggama dengan cara berdiri. Sebab, cara ini akan menyebabkan lemahnya ginjal, sakit perut, dan sakit pada mafasil(persendian).
2. Bersenggama dengan cara duduk. Sebab cara ini akan menyebabkan sakit pada ginjal, sakit perut, dan sakit pada urat-urat. Juga dapat mengakibatkan luka yang bernanah.
3. Bersenggama dengan posisi miring. Cara ini dapat menyebabkan sakit pada pantat.
4. Bersenggama dengan cara istri memegang peranan dalam mengendalikan persenggamaan, sementara suami hanya mengikuti (pasif). Yakni istri berada diatas suami. Sebab cara ini dapat mengakibatkan sakit pada saluran kencing suami.

Syekh Zaruq berkata: "bersenggama dengan posisi nomor tiga diatas dapat menyebabkan sakit pada lambung. Yakni salah satu lambung suami akan lemah, sakit atau kesulitan mengeluarkan sperma."
Penyusun kitab Syarah Al-Waghlisiyyah berkata, "Jangan bersenggama dengan cara berlutut, sebab, dengan cara ini pihak istri akan merasa kesulitan. Jangan bersenggama dengan posisi miring, sebab cara ini akan menyebabkan sakit pada lambung. Juga jangan bersenggama dengan cara istri berada diatas suami dan memegang peranan. Sebab cara ini akan dapat menyebabkan sakit pada saluran kencing. Sebaiknya senggama dilakukan dengan cara istri berbaring terlentang sambil mengangkat kedua kakinya, karena cara ini yang paling baik."

Selanjutnya Syekh penazham menerangkan:
"Bersenggama melalui lubang dubur itu terlarang,
sungguh terlaknat pelakunya, sebagaimana keterangan yang akan datang."

Rasulullah Saw. bersabda:
"Menyenggamai wanita dari lubang duburnya adalah haram."

Rasulullah Saw. Juga bersabda:
"Terlaknat, barang siapa yang menyenggamai wanita dari lubang duburnya, maka dia benar-benar kafir atas apa yang diturunkan kepada Muhammad Saw."

Sabda Rasulullah Saw.:
"Ada tujuh orang yang Allah Swt. tidak akan memberi rahmat kepada mereka kelak pada hari kiamat, dan Allah tidak akan membersihkan mereka, serta firman-Nya kepada mereka: 'Masuklah kamu semu ke neraka, bersama mereka yang memasukinya.' Tujuh orang itu ialah: 1) Laki-laki dan perempuan yang bersenggama dengan sejenisnya, 2) Orang-orang yang menikah dengan tangannya (mempermainkan zakarnya dengan tangannya sendiri, hingga dia dapat mengeluarkan mani), 3) Orang yang menyenggamai binatang, 4) Orang yang bersenggama dengan wanita melalui lubang dubur, 5) Orang yang memadu wanita dengan anaknya, 6) Orang yang berzina dengan istri tetangganya, 7) Orang yang menyakiti hati tetangganya."
Syekh Ibnu Al-Hajji telah mengumpulkan sejumlah hadist tentang ketujuh orang tersebut didalam kitab Madkhal, maka lihatlah tidak ada orang yang memperselisihkan kebenaran hadist tersebut, sebagaimana diingatkan oleh Syekh penazham berikut ini:
"Setiap orang yang memperbolehkan bersenggama melalui dubur,
tidak bisa diterima oleh orang yang berakal sehat dan jujur."

Pengarang kitab An-Nashihah berpendapat, bahwa dubur istri sama dengan dubur orang lain dalam hal keharamannya. Hanya saja bersenggama melalui dubur ini tidak mewajibkan adanya hukuman had, karena kesamarannya (kemiripannya) dengan vagina (lubang farji).

Orang yang membolehkan bersenggama melalui dubur ini menisbatkan pendapatnya kepada Imam Malik. Tetapi kemudian Imam Malik sendiri cuci tangan dengan nisbat itu, dan beliau membaca firman AllahSwt. yang artinya:

"Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu sebagaimana saja kamu kehendaki."

Imam Malik juga berkata: "Tidak ada orang yang menanam, kecuali pada tempatnya. Hanya saja masalah dubur ini memang besar perkaranya, karena bersenggama melalui dubur itu menentang hikmah dan melawan sifat ketuhanan, dengan menjadikan tempat untuk keluar sebagai tempat masuk. Kemudian, didalam bersenggama melalui dubur ini terdapat bahaya, baik dari segi kesehatan maupun kebiasaan.

Dikisahkan dari Syekh Abdurrahim bin Qasim, bahwa ada seorang polisi kota Madinah datang menghadap Imam Malik dan bertanya tentang laki-laki yang dilaporkan kepadanya, bahwa dia telah bersenggama dengan istrinya melalui lubang dubur. Maka Imam Malik berkata: "Saya berpendapat, bahwa sebaiknya orang itu dipukul hingga merasa sakit. Apabila ia mengulangi perbuatannya itu, maka pisahkanlah keduanya."

Adapun bersenang-senang dengan bagian luar dubur diperbolehkan. Akan tetapi, hal itu sebaiknya dihindari karena khawatir hal itu akan membangkitkan nafsu sang istri untuk minta disetubuhi duburnya. Diperbolehkan bersenang-senang dengan bagian luar dubur tersebut sama dengan diperbolehkannya bersenang-senang dengan kedua paha istri atau semisalnya, ketika istri sedang haid atau nifas.

Syekh penazham mengingatkan sebagai berikut:
"Bersenang-senang dengan paha diperbolehkan, wahai kawan,
atau semisalnya, hati-hati agar kamu terjaga dari kejelekan."

Kemudian yang dibahas Syekh penazham tentang diperbolehkannya bersenang-senang dengan paha (diluar vagina) ini adalah pendapat Imam Ashbagh, dan pendapat ini berbeda dengan pendapat yang masyhur, sebagaimana yang dijelaskan pengarang kitab Mukhtashar. Haid menjadi penghalang sahnya shalat dan puasa, serta haramnya bersenggama pada vagina atau bersenang-senang dengan bagian tubuh yang ada dibalik kain (misalnya dengan cara menjepit zakar dengan kedua paha istri, yang antara paha dan zakar itu tidak ada penghalang) karena dikhawatirkan akan diteruskan dengan menyetubuhinya. Dengan demikian, yang dimaksudkan dalam larangan tersebut adalah semata-mata untuk menutup perantara.

Qurratul Uyun,
Syarah Nazham Ibnu Yamun

BACA SELANJUTNYA.... »»

Tempat Untuk Bersenggama

"Ketahuilah, tentang hal-hal yang disunahkan saat bersenggama,
(yaitu) di tempat yang aman dari orang yang mendengarkannya.
Suaranya juga (jangan) sampai terdengar, wahai kawan,
dan di tempat itu tak ada orang lain meskipun anak kamu. Syekh penazham menjelaskan bahwa, yang dimaksudkan adalah sewaktu bersenggama didalam rumah tidak ada orang lain meskipun anak kecil.

Pengarang kitab Al-Madkhal berkata: 'Orang-orang yang hendak bersenggama dengan istrinya hendaknya mengikuti tuntunan (aturan-aturan) bersenggama yang sudah dijelaskan. Yakni dilakukan didalam rumah yang tidak ada orang lain, kecuali istri atau hamba sahayanya sendiri, karena senggama termasuk aurat, sedangkan aurat wajib untuk ditutupi."

Ibnu Burhan berkata dalam menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan kepadanya, antara lain: Suami jangan sampai bersenggama dengan istrinya di dalam rumah yang ada orang lain disitu, meskipun anak kecil yang sudah tamyiz. Juga jangan sampai bersenggama didekat pembantu yang sedang tidur nyenyak, meskipun dirasa aman. Karena dikhawatirkan ia akan terbangun pada saat-saat senggama sudah mulai menginjak detik-detik yang menggetarkan seluruh tubuh. Kalau sampai terjadi, maka semuanya akan buyar, hati diliputi kekecewaan, dan timbullah malapetaka akibat senggama.


Di dalam hal ini orang-orang desa sama saja dengan orang-orang kota. Oleh karena itu, jangan bersenggama jika di dalam rumah itu masih ada orang." Pendapat tersebut sama dengan pendapat yang termaktub dalam kitab At-Taudhih dan Asy-Syamil. Jelasnya, pendapat tersebut cenderung memberi hukum haram. Sebab senggama yang dilakukan dalam keadaan tersebut akan mendatangkan kekecewaan, rasa malu, dan penyesalan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan malapetaka diantara suami dan istri. Oleh karena itu, Imam Khattab dan Imam Jazuli berkata, "Tidak akan berhasil bersenggama ditempat yang ada orang lainya." Akan tetapi, Abu Abdillah Al-Fakhkhar menjelaskan, bahwa larangan bersenggama dalam keadaan sepeti itu hanyalah sebatas makruh, karena hukum asal senggama adalah mubah. Dihukumi makruh karena sifat (rasa) malu termasuk tuntunan dalam agama. Hal itu sebagai mana dituturkan dalam kitab An-Nawadir, bahwa Imam Malik menghukumi makruh masalah-masalah senggama seperti tersebut di atas.

Ketetapan makruh ini dipandang dari segi kemungkinan suami mampu menyuruh keluar orang yang ada dirumah itu. Apabila tidak mungkin, misalnya dengan menyuruhnya keluar akan menimbulkan sakit hati, karena mereka berada dalam satu rumah, maka hendaknya sang suami membuat semacam pembatas yang dapat memisahkan antara dia dan istrinya dengan mereka. Pembatas tersebut dibuat sedemikian rupa, agar dapat menimbulkan rasa aman dalam melakukan senggama. Di samping itu, perlu diingat, orang yang bersenggama terutama saat menjelang ejakulasi biasanya suara rintihannya terdengar nyaring tanpa sengaja, karena kebesaran nikmat yang diberikan Allah Swt.

Dalam hal ini Syekh penazham mengingatkan dalam nazhamnya sebagai berikut:
"Boleh bersenggama dengan menggunakan pembatas yang tebal, hai pemuda,
bagi orang yang tinggal serumah bersama mereka." Syekh Ibnu Arafah berkata, "Jangan bersenggama sementara didalam rumah ada orang lain yang sedang tidur, selain tamu dan kawan kecuali bagi orang-orang yang berkecukupan."

Syekh Zahudi mengatakan, bahwa larangan itu sangat beralasan bagi kebanyakan orang yang mempunyai anak. Jika senggama terpaksa harus dilakukan, tiba-tiba sewaktu ejakulasi akan berlangsung sebagaimana mestinya si kecil terbangun, maka sang istri akan dan harus menghadapi dua kebutuhan yang sama-sama kuat, yaitu kebutuhan untuk melakukan ejakulasi secara bersamaan dengan sang suami dan keharusan meredakan tangis si kecil.

Qurratul Uyun,
Syarah Nazham Ibnu Yamun

BACA SELANJUTNYA.... »»

Waktu Yang Harus Dihindari Untuk Bersenggama

Syekh penazham menjelaskan waktu-waktu yang terlarang untuk bersenggama, sebagaimana diungkapkan dalam nazhamnya yang berbahar rajaz berikut ini:
"Dilarang bersenggama ketika istri sedang haid dan nifas,
Dan sempitnya waktu shalat fardlu, jangan merasa bebas."
Allah Swt. berfirman:
"Mereka bertanya kepadamu tentang haid, Katakanlah, haid adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haid" (Qs. Al-Baqarah: 222)
Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan "menjauhkan diri" adalah menjauhkan diri dari vagina istri, yang artinya tidak melakukan senggama. Ini adalah pendapat Hafshah ra. Dan Imam Mujahid pun sependapat dengan pendapat Hafshah ra. Tersebut.


Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Ausath dari Abu Hurairah secara marfu':
Rasulullah Saw.bersabda:
"Barang siapa bersetubuh dengan istrinya yang sedang haid, kemudian ditakdirkan mempunyai anak dan terjangkiti penyakit kusta, maka jangan sekali-kali mencela, kecuali mencela dirinya sendiri"
Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata, "Bersetubuh di waktu haid dan nifas akan mengakibatkan anak terjangkiti penyakit kusta."
Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan sebuah hadits marfu' dari shahabat Abu Hurairarah ra.:
Rasulullah Saw.bersabda:
"Barang siapa datang kepada dukun peramal, kemudian dia mempercayai apa yang dikatakannya, dan menyetubuhi istrinya diwaktu haid atau pada duburnya, maka dia benar-benar telah melepaskan diri dari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Saw."

Rasulullah Saw. bersabda:
"Barang siapa menyetubuhi istrinya diwaktu haid, maka hendaklah dia bersedekah satu keping dinar. Dan barang siapa menyetubuhi istrinya dikala haidnya telah reda, maka hendaklah dia bersedekah setenga keping dinar."
Ibnu Yamun meneruskan nazhamnya sebagai berikut:
"Dilarang senggama (menurut pendapat yang masyhur) dimalam hari raya Idul Adha,
Demikian pula dimalam pertama pada setiap bulan.
Dimalam pertengahan pada setiap bulan,
Bagitu pula dimalam terakhir pada setiap bulan."
Hal itu berdasarkan pada sabda Rasulullah Saw.:
"Janganlah kamu bersenggama pada malam permulaan dan pertengahan bulan"

Al-Imam Ghazali mengatakan, bahwa bersenggama makruh dilakukan pada tiga malam dari setiap bulan, yaitu: pada malam awal bulan, malam pertengahan bulan, dan pada malam terakhir bulan. Sebab setan menghadiri setiap persenggamaan yang dilakukan pada malam-malam tersebut.
Ada yang berpendapat, bahwa bersetubuh pada malam-malam tersebut dapat mengakibatkan gila atau mudah stres pada anak yang terlahir. Akan tetapi larangan-larangan tersebut hanya sampai pada batas makruh tidak sampai pada hukum haram, sebagaimana bersenggama dikala haid, nifas dan sempitnya waktu shalat fardlu.
Selanjutnya Syekh penazham mengungkapkan tentang keadaan orang yang mengakibatkan ia tidak boleh bersenggama dalam nazham berikut ini:
"Hindarilah bersenggama dikala sedang kehausan,
kelaparan, wahai kawan, ambillah keterangan ini secara berurutan.
Dikala marah, sangat gembira, demikian pula,
dikala sangat kenyang, begitu pula saat kurang tidur.
Dikala muntah-muntah, murus secara berurutan,
demikian pula ketika kamu baru keluar dari pemandian.
Atau sebelumnya, seperti kelelahan dan cantuk (bekam),
jagalah dan nyatakanlah itu semua dan jangan mencela."

Sebagaimana disampaikan oleh Imam Ar-Rizi, Bersenggama dalam keadaan sangat gembira akan menyebabkan cedera. Bersenggama dalam keadaan kenyang akan menimbulkan rasa sakit pada persendian tubuh. Demikian juga senggama yang dilakukan dalam keadaan kurang tidur atau sedang susah. Semuanya harus dihindari, karena akan menghilangkan kekuatan dalam bersenggama.
Begitu juga gendanya dijauhi senggama yang sebelumnya sudah didahului dengan muntah-muntah dan murus-murus, kelelahan, keluar darah (cantuk), keluar keringat, kencing sangat banyak, atau setelah minum obat urus-urus. Sebab menurut Imam As-Razi, semua itu akan dapat menimbulkan bahaya bagi tubuh pelakunya. Demikian juga hendaknya dijauhi senggama setelah keluar dari pemandian air panas atau sebelumnya, karena ibu itu dapat mengakibatkan terjangkiti sakit kepala atau melemahkan syahwat. Juga hendaknya mengurangi senggama pada musim kemarau, musim hujan, atau sama sekali tidak melakukan senggama dikala udara rusak atau wabah penyakit sedang melanda, sebagaimana dituturkan Syekh penazham berikut ini:
"Kurangilah bersenggama pada musim panas,
dikala wabah sedang melanda dan dimusim hujan."

Imam Ar-Rizi mengatakan, bahwa orang yang mempunyai kondisi tubuh yang kering sebaiknya menghindari senggama pada musim panas. Sedangkan orang yang mempunyai kondisi tubuh yang dingin hendaknya mengurangi senggama pada musim panas maupun dingin dan meninggalkan sama sekali pada saat udara tidak menentu serta pada waktu wabah penyakit sedang melanda.
Kemudian Syekh penazham melanjutkan nazhamnya sebagai berikut:
"Dua kali senggama itu hak wanita,
setiap Jumat, waktunya sampai subuh tiba.
Satu kali saja senggama demi menjaga kesehatan,
setiap Jumat bagi suami yang sakit-sakitan."
Syekh Zaruq didalam kita Nashihah Al-Kafiyah berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan hak wanita adalah senggama yang dilakukan suami bersamanya paling sedikit dua kali dalam setiap Jumat. Atau paling sedikit satu kali pada setiap Jumat bagi suami yang cukup tingkat kesehatannya.
Shahabat Umar bin Khaththab menentukan satu kali senggama dalam satu kali suci wanita (istri)(satu kali dalam sebulan), karena dengan begitu suami akan mampu membuat istrinya hamil dan menjaganya. Benar demikian, akan tetapi sebaiknya suami dapat menambah dan mengurangi menurut kebutuhan istri demi menjaga kesehatan. Sebab, menjaga kesehatan istri merupakan kewajiban bagi suami.
Sebaiknya suami tidak menjarangkan bersenggama bersama istri, sehingga istri merasa tidak enak badan. Suami juga tidak boleh memperbanyak bersenggama dengan istri, sehingga istri merasa bosan, sebagaimana diingatkan Syekh penazham melalui nazhamnya berikut ini:
"Diwaktu luang senggama jangan dikurangi, wahai pemuda,
jika istri merasa tidak enak karenanya, maka layanilah dia.
Sebaliknya adalah dengan sebaliknya, demikian menurut anggapan yang ada.
Perhatikan apa yang dikatakan dan pikirkanlah dengan serius."
Syekh Zaruq dalam kitab An-Nashihah berkata, "Suami jangan memperbanyak senggama hingga istri merasa bosan dan jangan menjarangkannya hingga istrinya merasa tidak enak badan."
Imam Zaruq juga berkata: "Jika istri membutuhkan senggama, suami hendaknya melayani istrinya untuk bersenggama bersamanya sampai empat kali semalam dan empat kali disiang hari."
Sementara itu istri tidak boleh menolak keinginan suami untuk bersenggama tanpa uzur, berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berikut ini:
"Seorang wanita datang menghadap Rasulullah Saw. seraya bertanya: 'Ya Rasulallah, apakah hak seorang suami atas istrinya?' Rasulullah Saw. menjawab: 'Istri tidak boleh menolak ajakan suaminya, meskipun dia sedang berada diatas punggung unta (kendaraan)'."
Rasulullah Saw. juga bersabda:
"Ketika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, kemudian dia menolak, maka para malaikat akan melaknatnya hingga waktu subuh tiba"
Dijelaskan, kekhawatiran istri akan anaknya yang sedang menyusu tidak termasuk uzur, sebab sebenarnya sperma suami akan dapat memperbanyak air susu istri.

Qurratul Uyun,
Syarah Nazham Ibnu Yamun

BACA SELANJUTNYA.... »»

Waktu Yang Tepat Untuk Bersenggama

"Penjelasan tentang masalah bersenggama dan waktunya,
dituturkan lewat susunan kata yang indah dalam beberapa bait."
Dengan nazham tersebut Syekh penazham mengawali penjelasannya tentang tata krama bersenggama dan waktu-waktu yang dianjurkan serta yang harus dihindari oleh orang yang hendak bersenggama. Juga hal-hal yang bertalian dengan tata krama lainya. Berikut ini bait-baitnya:
"Senggama dapat dilakukan setiap saat,
selain pada waktu yang akan diterangkan secara berurutan.
Didalam saat tersebut senggama bisa dimulai, wahai kawan,
seperti penjelasan yang terdapat pada surat An-Nisa'"

Syekh penazham menjelaskan, bahwa senggama dapat dilakukan setiap saat, baik siang maupun malam, kecuali pada waktu yang nanti akan dijelaskan, sebagaimana petunjuk yang terdapat dalam Al-Quran yaitu firman Allah Swt.:
"Istri-istri kalian adalah (seperti) tempat tanah kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki" (Qs. Al-Baqarah: 223)
Maksudnya, kapan saja kalian mau, baik siang maupun malam menurut beberapa tafsir atas ayat diatas. Ayat ini jugalah yang dimaksudkan oleh kata-kata penazham, seperti penjelasan pada surat An-Nisa', akan tetapi, bersenggama pada permulaan malam lebih utama. Oleh karena itu Syekh penazham mengingatkan dalam bait berikut ini:
"Namun senggama diawal malam lebih utama, ambillah pelajaran ini,
Pendapat lain mengatakan sebaliknya, maka yang awal itulah yang diisytiharkan"


Al-Imam Abu Abdullah bin Al-Hajji didalam kitab Al-Madkhal mengatakan, bahwa ada dipersilahkan memilih dalam melakukan senggama, baik diawal atau akhir malam. Akan tetapi, diawal malam lebih utama, sebab, waktu untuk mandi jinabat masih panjang dan cukup. Lain halnya kalau senggama dilakukan diakhir malam, terkadang waktu untuk mandi sangat sempit dan berjamaah shalat subuh terpaksa harus tertinggal, atau bahkan mengerjakan shalat subuh sudah keluar dari waktu yang utama, yaitu shalat diawal waktu.
Disamping itu, senggama diakhir malam sudah barang tentu dilakukan sesudah tidur, dan bau mulut pun sudah berubah tidak enak, sehingga dikhawatirkan akan mendatangkan rasa jijik dan berkurangnya gairah untuk memadu cinta kasih. Akibatnya, senggama dilakukan hanya bertujuan senggama, lain tidak. Padahal maksud dan tujuan senggama tidaklah demikian, yaitu untuk menanamkan rasa ulfah dan mahabbah, rasa damai dan cinta, serta saling mengasihi sebagai buah asmara yang tertanam didalam lubuk hati suami istri.
Pendapat tersebut ditentang oleh Imam Al-Ghazali. Beliau berpendapat, bahwa senggama yang dilakukan pada awal malam adalah makruh, karena orang (sesudah bersenggama) akan tidur dalam keadaan tidak suci. Sehubungan dengan pendapat Al-Ghazali ini, Syekh penazham mengingatkan melalui nazhamnya: waqiila bil-'aksi (pendapat lain mengatakan sebaliknya). Akan tetapi, pendapat yang mashur adalah pada awal malam, sebagaimana yang disampaikan penazham: wa awwalun syuhir (maka yang awal itulah yang diisytiharkan).


Selanjutnya Syekh penazham menjelaskan beberapa malam, dimana disunahkan didalamnya melakukan senggama, sebagaimana diuraikan pada bait nazham berikut ini:
"Senggama dimalam Jumat dan Senin benar-benar di sunahkan,
karena keutamaan malam itu tidak diragukan."
Syekh penazham menjelaskan, bahwa disunahkan bersenggama pada maka Jumat. Karena malam Jumat adalah malam yang paling utama diantara malam-malam lainya. Ini juga yang dimaksudkan Syekh penazham: bi lailatil ghuruubi dengan menetapkan salah satu takwil hadits berikut ini:
"Allah Swt. memberi rahmat kepada orang yang karena dirinya orang lain melakukan mandi dan ia sendiri melakukannya"

Syekh Suyuti mengatakan, bahwa hadits tersebut dikuatkan oleh hadits dari Abu Hurairah berikut ini:
"Apakah seseorang diantara kalian tidak mampu bersenggama bersama istrinya pada setiap hari Jumat? Sebab, baginya mendapat dua macam pahala, pahala dia melakukan mandi dan pahala istrinya juga melakukan mandi." (HR. Baihaqi)
Bersenggama itu disunahkan lebih banyak dilakukan dari pada hari-hari dan waktu yang telah disebutkan diatas. Hal itu dijelaskan oleh Syekh penazham melalui
nazhamnya berikut ini:
"Senggama dilakukan setelah tubuh terangsang, hai pemuda,
tubuh terasa ringan dan tidak sedang dilanda kesusahan."
Syekh penazham menjelaskan, bahwa termasuk kedalam tata krama bersenggama adalah senggama dilakukan setelah melakukan pendahuluan, misalnya bermain cinta, mencium pipi, tetek, perut, leher, dada, atau anggota tubuh lainnya, sehingga pendahuluan ini mampu membangkitkan nafsu dan membuatnya siap untuk memasuki pintu senggama yang sudah terbuka lebar dan siap menerima kenikmatan apapun yang bakal timbul. Hal ini dilakukan karena ada sabda Nabi Saw.:
"Janganlah salah seorang diantara kalian (bersenggama) dengan istrinya, seperti halnya hewan ternak. Sebaiknya antara keduanya menggunakan perantara. Ditanyakan, 'Apakah yang dimaksud dengan perantara itu?' Nabi Saw. menjawab,'Yakni ciuman dan rayuan."
Diantara tata krama senggama lainya adalah bersenggama dilakukan setelah perut terasa ringan dan tubuh benar-benar segar. Karena senggama dalam keadaan perut kenyang akan dapat menimbulkan rasa sakit, mengundang penyakit tulang, dan lain-lain. Oleh karena itu, bagi orang yang selalu menjaga kesehatan hal-hal seperti itu sebaiknya dihindari. Dikatakan, bahwa ada tiga perkara yang terkadang dapat mematikan seseorang, yaitu:
1. Bersetubuh dalam keadaan lapar.
2. Bersetubuh dalam keadaan sangat kenyang.
3. Bersetubuh setelah makan ikan dendeng kering.
Kata-kata Syekh penazham diatas diathafkan pada lafazh al-a'dhaa-u, yang berarti ringannya rasa susah, maksudnya, kesusahan tidak sedang melanda dirinya. Oleh karena itu sebenarnya susunan kata tersebut (ringannya rasa susah) tidak diperlukan lagi, karena ada kata-kata penazham: "Setelah tubuh terasa ringan". Jadi seolah-olah susunan kata tersebut hanya untuk menyempurnakan bait nazham.


Qurratul Uyun,
Syarah Nazham Ibnu Yamun

BACA SELANJUTNYA.... »»

Ancaman Bagi Istri Yang Tidak Taat Kepada Suaminya

Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki datang menghadap kepada para shahabat Rasulullah. Dia menyampaikan kepada shahabat tentang hal-hal yang terjadi atas istrinya. Salah seorang shahabat menanggapi pengaduan laki-laki tersebut dengan memberikan keterangan yang dia dengar dari Rasulullah Saw. kemudian (setelah lewat beberapa waktu) para shahabat mengirimkan keterangan-keterangan yang diperoleh dari beliau Nabi Saw. kepada istri laki-laki tersebut bersama Khuzaifah bin Al-Yaman ra.

Adapun keterangan-keterangan itu antara lain adalah sebagai berikut: "Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
"Apabila aku diperintahkan agar seorang bersujud kepada orang lain, maka pasti aku perintahkan wanita (istri) sujud kepada suaminya."

Dari shahabat Umar ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang mengeraskan suaranya melebihi suara suaminya, maka setiap sesuatu yang terkena sinar matahari akan melaknat dia, kecuali dia mau bertaubat dan kembali dengan baik."


Dari shahabat Ustman bin Affan ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Apabila seorang wanita memiliki seluruh dunia ini, kemudian dia nafkahkan kepada suaminya, setelah itu dia mengumpat suaminya karena nafkah tersebut, maka selain Allah Swt. melebur amalnya, dia juga akan digiring bersama Fir'aun."

Dari Ali bin Abi Thalib ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Andaikata seorang wanita memasak kedua teteknya (kedua buah dadanya), kemudian dia memberi makan suaminya dengan kedua teteknya itu, maka hal itu belum dapat menyempurnakan haknya sebagai istri."

Dari shahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita mana pun yang mengambil barang-barang suaminya, maka baginya dosa tujuh puluh kali sebagai pencuri."

Dari shahabat Abdullah bin Abbas ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita mana pun yang memiliki harta, kemudian suaminya meminta harta itu dan dia menolaknya, maka Allah Swt. akan mencegahnya kelak pada hari kiamat untuk mendapatkan apa yang ada disisi Allah Swt."

Dari Ibnu Mas'ud ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang di rumahnya tidak jujur terhadap suaminya atau tidak setia di tempat tidur suaminya, maka Allah Swt. pasti akan memasukkan ke dalam kuburnya tujuh puluh ribu ekor ular dan kalajengking yang menggigitnya sampai pada hari kiamat"
Dari shahabat Amr bin Ash ra. rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang tidak setia ditempat tidur suaminya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam neraka, kemudian dari mulutnya keluar nanah, darah, dan nanah busuk."

Dari shahabat Anas ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang berdiri bersama selain suaminya, dan orang lain itu bukan muhrimnya, maka Allah Swt. pasti akan menyuruhnya berdiri di tepi neraka Jahannam dan setiap kalimat yang diucapkan akan tertulis baginya seribu kejelekan."

Dari shahabat Abdullah bin Umar ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang keluar dari rumah suaminya (tanpa izin) maka setiap benda yang basah dan kering akan melaknatinya."

Dari shahabu Thalhah bin Abdullah ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang berkata kepada suaminya, 'Aku sama sekali tidak pernah mendapatkan kebaikan darimu', maka Allah swt. akan memutuskan rahmat-Nya darinya."

Dari Zubair bin Al-Awwam ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang terus-menerus menyakiti hati suaminya sampai suaminya menjatuhkan talak, maka siksa Allah Swt. tetap padanya"

Dari Sa'ad bin Abu Waqqash ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang memaksa suaminya diluar batas kemampuannya, maka Allah Swt. pasti menyiksanya bersama dengan orang Yahudi dan Nasrani."

Dari Sa'id Musayyab ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang meminta sesuatu kepada suaminya, sementara dia tahu bahwa suaminya tidak mampu untuk itu, maka Allah Swt. kelak pada hari kiamat pasti akan meminta diperpanjang penyiksaan kepadanya"

Dari shahabat Abdullah bin Amr ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang wajahnya cemberut didepan suaminya, maka kelak pada hari kiamat dia datang dengan muka yang hitam, kecuali kalau dia bertaubat atau ceria."

Dari Ubaidah bin Al-Jarrah ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang membuat suaminya marah, sementara dia sendiri zalim atau marah kepada suaminya,maka Allah Swt. tidak akan menerima ibadah fardhu dan sunnah darinya"

Dari Abdullah bin Masud ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Allah Swt. melaknat wanita-wanita yang mengulur waktu. Ditanyakan, 'Siapakah wanita-wanita yang mengulur-ulur waktu itu ya Rasulallah?' Rasulullah Saw. menjawab,'Dia adalah wanita yang diajak suaminya tidur, kemudian dia mengulur-ulur waktu untuk tidur bersamanya dan sibuk dengan urusan lain, hingga suaminya tertidur."

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang memandang wajah suaminya dan tidak tersenyum, maka sesungguhnya dia tidak akan melihat surga selamanya, kecuali dia bertaubat dan menyadarinya hingga suami meridhainya"

Dari shahabat Salman Al-Farisi ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang menggunakan wangi-wangian dan merias diri, kemudian keluar dari rumahnya, maka dia pasti keluar bersama murka Allah Swt. dan kebencian-Nya, hingga dia kembali ke rumahnya."

Dari shahabat Bilal bin Hamamah ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang melakukan shalat dan puasa tanpa izin suaminya, maka pahala shalat dan puasanya itu bagi suaminya, dan baginya adalah dosa."

Dari Abu Darda' ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang membuka rahasia suaminya, maka kelak pada hari kiamat Allah Swt. akan mencemooh dia didepan para makhluk, demikian juga ketika di dunia sebelum di akhirat."

Dari Abu Said Al-Khudri ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Wanita manapun yang melepas pakaianya di selain rumah suaminya, maka dosa semua orang yang telah mati dibebankan kepadanya, dan Allah Swt. tidak akan menerima amal fardhu maupun sunnahnya."

Dari shahabat Abbas bin Abdul Muthalib ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Diperlihatkan kepadaku neraka, maka aku lihat kebanyakan penghuninya adalah wanita. Hal itu tidak akan terjadi, kecuali mereka (wanita-wanita) banyak berdosa terhadap suami-suami mereka."

Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah Saw. bersabda:
"Sebagian tanda ridha Allah Swt. kepada wanita adalah suaminya ridha padanya"

Qurratul Uyun,
Syarah Nazham Ibnu Yamun

BACA SELANJUTNYA.... »»

Memilih Istri

Dalam setiap pernikahan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah apa yang ada pada suami harus seimbang dengang apa yang ada pada istri,

berdasarkan hadits Nabi Saw. bersabda:
"Nikah itu ibarat budak (hamba), maka salah seorang diantara kamu melihat dimana dia harus meletakkan kemuliaannya. Maka janganlah menikahnya, kecuali dengan laki-laki yang seimbang."
Maksudnya seimbang atau hampir seimbang. Adapun hal-hal yang harus seimbang, menurut pendapat para ulama ialah, meliputi agama, nasab, bentuk tubuhnya, kekayaan dan pekerjaan.
Seorang suami dalam melakukan pernikahan hendaknya dengan niat mengikuti sunah rasul, memperbanyak umat Nabi Saw. Lalu berbuat baik dalam memimpin, mengarahkan istrinya, menjaga agama dan mengharap keturunan (anak) shaleh yang dapat mendoakannya


Sedangkan hal-hal yang harus diperhatikan pada diri istri adalah tidak adanya sesuatu yang mencegah nikah atau masih dalam keadaan iddah dari suami terdahulu, mengerti makna yang terkandung didalam Syahadatain, dan memeluk agama Islam
Nabi Saw. bersabda:
"Seorang wanita itu dinikahi karena hartanya,kecantikannya, nasabnya dan agamanya, maka hendaklah kamu kawin dengan wanita karena agamanya, agar kamu bahagia."

Nabi Saw. bersabda:
"Barang siapa kawin dengan wanita karena hartanya dan kecantikannya, maka harta dan kecantikan wanita itu akan ditutup oleh Allah Swt. Dan barang siapa kawin dengan wanita karena agamanya, maka Allah akan memberi rizki pada harta dan kecantikannya"
Nabi Saw. bersabda:
"Janganlah kamu kawin dengan wanita karena kecantikannya, besar kemungkinan karena kecantikannya dia akan jatuh ke lembah kehinaan. Dan jangan kamu kawin dengan wanita karena hartanya, besar kemungkinan karena hartanya dia akan berbuat lacur (serong)."

Dan hendaklah kamu kawin dengan wanita yang baik budi pekertinya.
Nabi Saw. bersabda:
"Mohonlah perlindungan kepada Allah Swt. dari perkara yang dibenci. Ditanyakan, 'Apakah perkara yang dibenci itu ya Rasulallah?' Beliau menjawab: 'Perkara yang dibenci itu adalah:
1. Pemimpin yang menyeleweng, yang mengambil dan mengambil hakmu.
2. Tetangga yang jelek, yang kedua matanya memandangmu sedangkan hatinya mengekangmu. Jika melihat kebaikan dia menutup matanya dan mengincarnya, sedangkan jika melihat kejelekan, dia berusaha untuk menampakkannya.
3. Wanita yang menumbuhkan uban sebelum waktunya.'"

Wanita yang dinikahi tidak mandul, karena Nabi Saw. bersabda:
"Kawinlah kalian dengan wanita yang penuh rasa kasih sayang dan mampu melahirkan anak yang banyak, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian dihadapan umat lain. Dan janganlah kamu kawin dengan wanita yang tua dan mandul, karena sesungguhnya anak-anak muslim berada dibawah bayang-bayang Arasy. Mereka dikumpulkan oleh bapaknya, yaitu nabi Ibrahim, kekasih Allah Swt. Mereka memohon ampunan buat ayah-aya mereka."

Wanita yang dinikahi hendaknya perawan. Nabi Saw. bersabda:
"Hendaklah kalian kawin dengan wanita-wanita yang masih perawan. Karena mereka lebih bersih mulutnya, lebih menghadap rahimnya (lebih subur masa birahinya), dan lebih bagus budi pekertinya."
Wanita yang dinikahi adalah orang lain, karena Nabi Saw. bersabda:
"Janganlah kalian kawin dengan wanita yang masih ada hubungan keluarga. Karena anak yang dilahirkan akan kurus."

Anak yang lahir itu kurus karena lemahnya syahwat. Berbeda kalau istri tidak berasal dari kerabat sendiri. Sebab wanita yang masih kerabat hanya mampu sebatas membangkitkan kekuatan rasa untuk menghidupkan syahwat saja. Namun apabila dipandang dari segi kehidupan dan keharmonisan, maka kawin dengan kerabat sendiri adalah paling utama. Sebab wanita yang masih ada hubungan kerabat sedikit (jarang) sekali menghianati suaminya. Dia selalu sabar (tahan) jika suaminya menyakiti hatinya,tidak mencela suaminya, tidak mudah tertarik pada laki-laki lain, dan rasa cemburu kekerabatan yang ada pada diri wanita terhadap suaminya tertanam melebihi rasa cemburunya yang bersifat perjodohan. Sifat-sifat seperti tersebut diatas sulit ditemukan pada wanita yang bukan kerabat, lebih-lebih jika wanita yang masih kerabat itu wajahnya cantik, karena hal itu akan lebih mendatangkan kerukunan dan kedamaian.
Hanya Allah Dzat Yang Menguasai Taufiq dan Hidayah

Qurratul Uyun,
Syarah Nazham Ibnu Yamun

BACA SELANJUTNYA.... »»